Ouverture

Prelude
Ouverture
Perkumpulan Kesenian
Kamp-kamp Jepang
Orkestra dan choirs
Komponis
Artis
Sticusa dan Erasmushuis
Encores atau links
Peneliti
Kronologi dan peta
Radio
Gedung-gedung Kesenian
Gamelan
Kritik-kritik
Kliping
Programa dan Resensi
Buku Tamu
 
Dari: ‘’Dagwerk in Indie’’          Print Version/Afdruk Versie

PENGHORMATAN KEPADA MASA LALU YANG KINI SUDAH SENYAP

 Beberapa kota di Jawa dan juga di wilayah luar Jawa, mengambil contoh dari  Batavia, dan mendirikan juga perkumpulan kesenian mereka. Pada tahun 1916, semua perkumpulan itu bersatu menjadi Ikatan Perkumpulan Kesenian.
 Segera tampak bahwa perkumpulan-perkumpulan itu menemui kesulitan dalam  mengorganisir berbagai pameran, belum lagi pelaksanaan dan pembiayaannya. Ternyata pagelaran musik dan tonil lebih mudah dilaksanakan. Di samping itu, masyarakat di banyak kota jelas-jelas lebih menyukainya.Tentara Belanda sendiri selalu memakai musik; pasukan-pasukan baru dari Belanda berbaris memasuki istana, diiringi musik. Para pahlawan yang menang dalam perang, disambut dengan musik di Balai Kota, pesta-pesta disemarakkan dan dimeriahkan dengan musik! Juga tingkat bawahan dalam Tentara Belanda dan kaum sipil sangat menyukai musik. Tidak jarang mereka sendiri memainkan sebuah instrumen, dan
di antara golongan rendah itu sering ada pemain biola, celo, dan harpa, sehingga mulai terbentuk orkes-orkes perumahan.  Pendeta Valentijn, yang pandai meniup seruling, setibanya di Batavia pada tahun 1686, segera bermain musik dengan Abraham van Riebeeck yang bermain bas, dan juga dengan seorang notaris di Batavia. Valentijn menginap di rumah teman seprofesinya, dan ketika dia berangkat ke tempat jabatannya, dia menghadiahkan kepada nyonya rumahnya sebuah alat musik bersenar bernama 'klavecimbel', yang dihiasi dengan lukisan
indah. Meskipun dia menghadiahkannya penuh rasa syukur atas keramahan
nyonya rumah itu, tetapi dia merasa sedikit kesal juga mengingat ongkos mahal yang telah dikeluarkannya di atas kapal untuk 'upah melukis instrumen itu'!
Valckemier mempunyai orkes-perumahan yang terdiri dari 15 pelayan, dan pada tahun 1956 seorang kapten kavaleri sipil membangun sebuah kupel-musik di Molenvliet Timur, yang dipakainya untuk tempat memimpin orkesnya.
                                                                                                                 
Otto Knaap, seorang keturunan Indo, yang mendapat didikan Eropa, adalah
pemain biola dan penilai musik. Dalam bukunya dia memberi penilaian yang
tampaknya dapat dipertanggungjawabkan mengenai kehidupan musik di Batavia. Penilaian itu memberi kesan bahwa dia telah mempelajari musik dengan cermat.
Dia menyebut nama beberapa pemusik yang terkemuka, yaitu: Joza S'rogi,
pemain biola dan dirigen yang sangat mahir, dua pianis wanita: Schroder dan
Mulder, para pemain biola: Charles Meyll, Twijsel dan Fusella, para pemain
violoncelo: Melia, van Dinter, Merck, Belle, para artis vokal: Meyboom dan Hans van der Wall. Selain itu dia menyebut beberapa kali nama Nyonya Witbols Feugen dan Nyonya Lange-Rijkmans, dua pengajar, yang sangat dipuji-puji olehnya karena keindahan suara mereka dan cara mereka menggunakannya.


Mulai tahun-tahun 90-an sejumlah seniman vokal dan instrumental datang ke
Jawa, seperti Maeth Piazza (Marie Storm van s'-Gravesande; dia sudah pernah datang ke Jawa, dan mungkin dia lahir di Hindia Belanda), pianis de Kontski, yang konon pernah belajar pada Beethoven. Menurut Knaap, biola Kontski adalah buatan Stradivarius. Istrinya pandai menyanyi. Suaranya nyaring dan sangat bagus. Juga pemain biola Ovide Musin mengadakan pagelaran di Jawa, dan istrinya juga menyanyi.
Tetapi, di samping segala prestasi itu, Knaap berbicara juga tentang
'permaianan para amatir yang kurang baik', yang kurang memanfaatkan
kesempatan luas di Batavia untuk belajar musik, dan yang tidak pandai
menilai kemampuan sendiri. Jadi, Pengurus Perkumpulan Kesenian di Batavia, mempunyai banyak alasan untuk membangun berdasarkan masa lalu dunia musik itu. Sebab itu, pada tahun 1914 didirikan Persekutuan Musik dan Tonil, yang bekerja dengan mandiri. Dengan segera persekutuan itu mendapat posisi yang lebih baik daripada Perkumpulan Kesenian Batavia sendiri, karena adanya bakat musik dan tersedianya para amatir tonil di Batavia dan Jawa. Selain itu, di zaman Perang Dunia I, beberapa seniman dari Belanda dan kemudian juga dari Eropa ternyata tertarik untuk mengadakan pagelaran di Jawa. Pada akhirnya juga
Ikatan Perk. Kesenian memutuskan untuk mengubah haluannya, dan beralih
kepada musik dan tonil yang jauh lebih mudah pengurusannya. Mereka
mengorganisir turne-turne ke seluruh Hindia Belanda, sehingga sangat menguntungkan bagi perkumpulan-perkumpulan Kesenian. Dan Perkumpulan Kesenian di Batavia melakukan hal yang sama di tahun 1927 dengan mengadakan fusi dengan Persekutuan Musik dan Tonil.

Ikatan Perk. Kesenian ditawari bantuan dari mana-mana untuk dapat melakukan pekerjaannya, yaitu dari: Jawatan Kereta Api Hindia Belanda, dari dinas bea dan cukai, perusahaan-perusahaan kapal uap, dan dari sejumlah hotel. Dengan demikian, dalam waktu beberapa tahun saja telah tersusun sebuah organisasi yang mampu melaksanakan berbagai pengaturan yang menguntungkan dan melindungi masyarakat maupun para seniman. Biasanya, setibanya di Priok, para pemain celo diantarkan ke rumah Tuan Belle di Pecenongan, seorang ahli memperbaiki alat musik dengan senar. Belle berhasil membuat alat perekat yang tidak terpengaruh oleh udara tropis yang lembab, sebab biasanya iklim tropis itu sudah mulai menyerang alat-alat musik bersenar dalam perjalanan laut. Godowsky    berkunjung dalam awal tahun-tahun 20-an, dan sangat dielu-elukan. Dia naik kapal
laut dan membawa sendiri dua piano besar. Di kemudian hari perusahaan Knies, yang memiliki toko musik dan alat-alat musik, menyediakan sebuah piano konser yang besar dan bagus, yang dipinjamkannya kepada Gedung Kesenian  selalu kalau ada pagelaran konser. Seorang ahli menyetem mendampingi piano itu selama pertunjukan berlangsung. Alexander Brailowski sering bermain untuk Perkumpulan Kesenian maupun untuk Ikatan Perk. Kesenian. Dalam waktu istirahat, semua seniman dikunjungi oleh banyak tamu, dan biasanya mereka menikmatinya. Ketika bertahun-tahun kemudian kami menghadiri konser
Brailowski di Paris, kami berusaha keras untuk menemuinya sesudah konser. Untunglah kami bertemu dengannya secara pribadi, di kamarnya, jauh dari
panggung. Dia langsung tahu nama kami, dan mengingat turne yang kami
organisir untuknya : 'Java, oh ce pays merveilleux!'. Padahal, bagi para seniman yang tersohor itu kami hanya dapat menyediakan apa adanya, juga di Batavia.
Pada mulanya konser-konser itu, seperti juga segala pameran kami, berlangsung dalam ruangan-ruangan pinjaman. Baru kemudian tersedia ruangan di lantai atas Gedung Kesenian. Tetapi tak lama kemudian ruangan itu menjadi terlalu kecil dan
juga terlalu panas. Soalnya, jumlah penonton dapat meningkat dengan drastis
setelah ada pengumuman mengenai kedatangan seniman-seniman tenar, seperti Rubinstein misalnya, yang datang pada tahun 1935. Dalam peristiwa seperti itu,
kami menyewa ruangan besar yang terbuka dari Kebun Binatang (sekarang Taman Ismail Marzuki) atau Gedung Sositet Concordia.

      J. de Loos-Haaxman

Print Version/Afdruk Versie